S C R U M

Menurut (Roger S Pressman & Bruce Maxim, 2014), Scrum adalah suatu metodologi atau kerangka kerja yang terstruktur untuk pengembangan produk yang kompleks. Scrum terdiri dari sebuah tim yang memiliki peran dan tugas masing-masing. Setiap komponen dalam kerangka melayani tujuan tertentu dan sangat penting untuk kesuksesan penggunaan scrum.

 

Gambar 1.1 Metodologi Scrum

 

Langkah-langkah aktifitas dengan menggunakan metodologi Scrum adalah sebagai berikut :

  • Product Backlog
    Bagian pertama yang perlu dilakukan adalah membuat kumpulan hal-hal yang diperlukan dan harus tersedia dari produk atau dalam hal ini adalah sistem yang akan dibangun.
  • Sprint Backlog
    Langkah ini adalah membuat perencanaan dengan dilakukkan pertemuan antara developer dan user, yang akan berkolaborasi untuk memilih product backlog untuk dimasukkan kedalam proses Sprint. Hasil pertemuan tersebut di sebut Sprint Backlog.
  • Sprint
    Dalam Scrum, Sprint adalah sebuah kerangka waktu yang berdurasi maksimal 1 bulan untuk mengembangkan produk yang berpotensi untuk dirilis. Dalam Sprint terdapat 2 pekerjaan, yaitu :

    1. Pertemuan Harian (Daily Standup Meeting)
      Merupakan pertemuan dimana setiap 24 jam (1 hari), tim pengembang bertemu untuk membahas perkembangan produk. Hal ini kami lakukan tidak secara langsung, tetapi via dunia maya melalui Skype ataupun Whatsapp.
    2. Refleksi Sprint
      Merupakan pertemuan yang dilakukan setiap bulannya yang bertujuan untuk membahas hal dari Sprint Backlog yang telah berjalan dan telah berhasil dikerjakan, serta dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk Sprint yang berikutnya.
  • Increment
    Increment merupakan hasil dari seluruh hal dalam Product Backlog yang telah selesai dikerjakan pada seluruh Sprint. Pada akhir Sprint, Increment harus sudah benar-benar selesai, yang berarti harus dalam keadaan yang useable.

Scrum sendiri memiliki prinsip :

  1. Ukuran tim yang kecil melancarkan komunikasi, mengurangi biaya, dan memberdayakan satu sama lain.
  2. Proses dapat beradaptasi terhadap perubahan dan bisnis.
  3. Proses menghasilkan beberapa software increment.
  4. Pembangunan dan orang yang membangun dibagi dalam tim yang kecil.
  5. Dokumentasi dan pengujian terus menerus dilakukan setelah software dibangun.
  6. Proses scrum mampu menyatakan bahwa produk selesai kapanpun diperlukan.

 

Sumber : Pressman, Roger. Maxim, Bruce. 2014. Software Engineering, A Practitioner’s Approach 8th Ed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *